MASYARAKAT PEDESAAN DAN MASYARAKAT PERKOTAAN
DOSEN PEMBIMBING :
DITIYA HIMAWATI, SE.,MM.
DISUSUN OLEH :
MAHARANI DITA APRILIANI
NPM : 23318931
KELAS 1TB05
7.1 MASYARAKAT PERKOTAAN, ASPEK-ASPEK POSITIF DAN NEGATIF
A. PENGERTIAN MASYARAKAT
Beberapa
definisi mengenai masyarakat dari para sarjana, seperti misalnya :
1.
R.Linton : masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama
hidup dan bekerjasama, sehingga mereka ini dapat mengorganisasikan dirinya
berpikir tentang dirinya dalam kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu
2.
MJ.Herkovits : masyarakat adalah kelompok individu yang diorganisasikan dan
mengikuti satu cara hidup tertentu
3.
J.L.Gilian : masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar dan mempunyai
kebiasaan, tradisi, sikap dan perasaan persatuan yang sama. Masyarakat itu
meliputi pengelompokan-pengelompokan yang lebih kecil
4.
S.R.Steinmetz : masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar, yang meliputi
pengelompokan-pengelompokan manusia yang lebih kecil yang mempunyai perhubungan
yang erat dan teratur.
5.
Hasan Sadily : masyarakat adalah golongan besar atau kecil dari beberapa
manusia, yang dengan atau sendirinya bertalian secara golongan dan mempunyai
pengaruh kebatinan satu sama lain. Masyarakat dapat mempunyai arti yang luas
dan sempit.
Dalam
arti luas masyarakat adalah ekseluruhan hubungan-hubungan dalam hidup bersama
dan tidak dibatasi oleh lingkungan, bangsa dan sebagainya. Atau dengan kata
lain kebulatan dari semua perhubungan dalam hidup bermasyarakat. Dalam arti
sempit masyarakat adalah sekelompok manusia yang dibatasi oleh aspek-aspek
tertentu, misalnya territorial, bangsa, golongan dan sebagainya.
B.
SYARAT MENJADI MASYARAKAT
Masyarakat
harus mempunyai syarat-syarat berikut :
1.
Harus ada pengumpulan manusia, dan harus banyak, bukan pengumpulan binatang
2.
telah bertempat tinggal dalam waktu yang lama disuatu daerah tertentu
3.
adanya aturan-aturan atau undang-undang yang mengatur mereka untuk menuju pada
kepentingan dan tujuan bersama.
C. PENGERTIAN
MASYARAKAT PERKOTAAN DAN CIRI-CIRINYA
Masyarakat
perkotaan sering disebut urban community. Pengertian masyarakat kota lebih
ditekankan pada sifat kehidupannya serta cirri-ciri kehidupannya yang berbeda
dengan masyarakat pedesaan.
Ada
beberap cirri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu :
1.
kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di
desa
2.
orang kota paa umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung
pada orang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu
3.
pembagian kerja di antra warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai
batas-batas yang nyata
4.
kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh
warga kota dari pada warga desa
5.
interaksi yang terjai lebih banyak terjadi berdasarkan pada factor kepentingan
daripaa factor pribadi
6.
pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar
kebutuhan individu 7. perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota,
sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.
D. TIPE
MASYARAKAT
1. Satu masyarakat kecil yang belum begitu kompleks,
yang belum mengenal pembagian kerja, belum mengenal struktur dan aspek-
aspeknya masih dapat dipelajari sebagai kesatuan.
2. Masyarakat yang sudah kompleks, yang sudah
menjalankan sepsialisasi dalam segala bidang karena ilmu pengetahuan modern
sudah maju, teknologi maju, sudah mengenal tulisan, satu masyarakat yang sukar
diselidiki baik didekati sebagian saja.
E. PERBEDAAN ANTARA DESA DAN KOTA
1. Jumlah dan
kepadatan penduduk
2. Lingkungan
hidup
3. Mata
pencaharian
4. Corak
kehidupan sosial
5. Stratifikasi
sosial
6. Mobilitas
sosial
7. Pola
interaksi sosial
8. Solidaritas
sosial
9. Kedudukan
dalam hierarki administrasi nasional
7.2 HUBUNGAN DESA DAN KOTA
Masyarakat pedesaan
dan perkotaan bukanlah dua komunitas yang terpisah sama sekali satu sama lain.
Bahkan dalam keadaan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat,
bersifat ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota
tergantung pada desa dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan-bahan pangan
sperti beras, sayur mayor, daging, ikan. Desa juga merupakan sumber tenaga
kasar bagi jenis-jenis pekerjaan tertentu di kota misalnya saja buruh bangunan
dalam proyek-proyek perumahan, proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya
atau jembatan. Mereka biasanya adalah pekerja-pekerja musiman.
Sebaliknya, kota
menghasilkan barang-barang yang juga diperlukan oleh orang desa seperti bahan-bahan
pakaian, alat dan obat pembasmi hama pertanian, minyak tanah, obat-obata untuk
memelihara kesehatan dan transportasi. Kota juga menyediakan tenaga tenaga yang
melayani bidang jasa yang dibutuhkan orang desa tetapi tidak dapat
dilakukannya.
Dalam kenyataannya
hal ideal tersebut kadang-kadang tidak terwujud karena adanya beberapa
pembatas. Jumlah penduduk semakin meningkat, tidak terkecuali di pedesaan.
Padahal luas lahan pertanian dan tanah sulit bertambah, terutama didaerah yang
seudah lama berkembang seperti pulau jawa. Peningkatan jumlah penduduk tanpa
diimbangi dengan perluasan kesempatan kerja ini pada akhirnya berakibat bahwa
di pedesaan terdapat banyak orang yangtidak mempunyai mata pencaharian tetap.
Mereka merupakan pengangguran, baik sebagai pengangguran penuh maupun setengah
penuh. Perkembangan kota merupakan manifestasi dari pola-pola kehidupan sosial,
ekonomi, kebudayaan dan politik. Kesemuanya akan tercermin dalam
komponen-komponen yang membentuk stuktur kota tersebut.
7.3 ASPEK POSITIF DAN NEGATIF
A. ASPEK POSITIF DAN NEGATIF
Untuk menunjang
aktivitas warganya serta untuk membertikan suasana aman, tentram dan nyaman
pada warganya, kota dihadapkan pada keharusan menyediakan berbagai aktivitas
kehidupan dan keharusan untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul sebagai
akibat aktivitas warganya. Dengan kata lain kota harus berkembang. Perkembangan
kota merupakan manifestasi pola kehidupan sosial, ekonomo, kebudayaan dan
politik. Kesemuanya ini akan dicerminkan dalam komponen yang membentuk struktur
kota tersebut.
B. 5 UNSUR LINGKUNGAN PERKOTAAN
Secara umum
dapat dikenal bahwa suatu lingkungan perkotaan seyogyanya mengandung 5 unsur
yang meliputi :
1. Wisma :
unsure ini merupakan bagian ruang kota yang dipergunakan untuk tempat
berlindung terhadap alam sekelilingnya, serta untuk melangsungkan kegiatan-kegiatan
sosial dalam keluarga.
2. Karya :
unsure ini merupakan syarat yang utama bagi eksistensi suatu kota, karena
unsure ini merupakan jaminan bagi kehidupan bermasyarakat.
3. Marga : unsure
ini merupakan ruang perkotaan yang berfungsi untuk menyelenggarakan hubungan
antara suatu tempat dengan tempat lainnya didalam kota, serta hubungan antara
kota itu dengan kota lain atau daerah lainnya.
4. Suka : unsure
ini merupakan bagian dari ruang perkotaan untuk memenuhi kebutuhan penduduk
akan fasilitas hiburan, rekreasi, pertamanan, kebudayaan dan kesenian
5. Penyempurna :
unsure ini merupakan bagian yang penting bagi suatu kota, tetapi belum secara
tepat tercakup ke dalam keempat unsur termasuk fasilitas pendidikan dan
kesehatan, fasiltias keagamaan, perkuburan kota dan jaringan utilitas kota.
C. FUNGSI EKSTERNAL KOTA
Di
pihak lain, kota mempunyai juga peran/fungsi eksternal, yakni seberapa jauh
fungsi dan peran kota tersebut dalam kerangka wilayah dan daerah-daerah yang
dilingkupi dan melingkupinya, baik dalam skala regional maupun nasional. Dengan
pengertian ini diharapkan bahwa suatu pengembangan kota tidak mengarah pada
satu organ tesendiri yang terpisah dengan daerah sekitarnya, karena keduanya
saling pengaruh-mempengaruhi.
7.4 MASYARAKAT PEDESAAN
A. PENGERTIAN DESA
Yang
dimaksud dengan desa menurut Sukardjo Kartohadikusuma adalah suatu kesatuan
hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan sendiri.
Menurut
Bintaro desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi, sosial, ekonomi,
politik dan cultural yang terdapat disuatu daerah dalam hubungannya
danpengaruhnya secara timbal-balik dengan daerah lain.
Sedangkan menurut paul H.Landis, desa
adalah suatu tempat yang penduduknya kurang dari 2.500 jiwa
B. CIRI, UNSUR, DAN FUNGSI DESA
Ciri- ciri desa antara lain :
1. Mempunyai
pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antra ribuan jiwa
2. Ada
pertalian perasaan yang sama tentang kesukuaan terhadap kebiasaan
3.
Cara berusaha (ekonomi) aalah agraris
yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam sekitar seperti : iklim, keadaan
alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat
sambilan.
Masyarakat
pedesaan ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuatsesama warga
desa, yaitu perasaan setiap warga/anggota masyarakat yagn amat kuat yang
hakekatnya, bahwa seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan
dari masyarakat dimanapun ia hidup dicintainya serta mempunyai perasaan
bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakatnya atau anggota-anggota
masyarakat, karena beranggapan samasama sebgai masyarakat yang saling mencintai
saling menghormati, mempunyai hak tanggung jawab yang sama terhadap keselamatan
dan kebahagiaan bersama di dalam masyarakat. Adapun yang menjadi ciri masyarakat
desa antara lain :
1. Didalam masyarakat pedesaan di antara warganya
mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan
masyarakat pedesaan lainnya di luar batas wilayahnya.
2. Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar
kekeluargaan
3. Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari
pertanian
4. Masyarakat tersebut homogen, deperti dalam hal mata
pencaharian, agama, adat istiadat, dan sebagainya
Unsur desa
antara lain :
- Daerah, dalam arti tanah-tanah yang produktif dan
yang tidak, beserta penggunaannya, termasuk juga unsur lokasi, luas dan
batas yang merupakan lingkungan geografis setempat.
- Penduduk, adalah hal yang meliputi jumlah
pertambahan, kepadatan, persebaran dan mata pencaharian penduduk desa
setempat.
- Tata kehidupan, dalam hal ini pola pergaulan dan
ikatan-ikatan pergaulan warga desa. Jadi menyangkut seluk-beluk kehidupan
masyarakat desa (rurual society).
Funngsi desa
antara lain :
- Pemberian
bahan makanan pokok seperti padi, jagung, ketela, di samping bahan makanan
lain seperti kacang, kedelai, buah-buahan, dan bahan makanan lain yang
berasal dari hewan.
- Lumbung
bahan mentah dan tenaga kerja yang tidak kecil artinya.
- Dari
segi kegiatan kerja desa dapat merupakan desa agraris, desa manufaktur,
desa indrustri, desa nelayan, dsb.
C. MACAM MACAM PEKERJAAN GOTONG ROYONG
1. Kerja bersama untuk
pekerjaan-pekerjaan yang timbulnya dari inisiatif warga masyarakat itu sendiri
(biasanya distilahkan dari bawah).
2. Kerjasama untuk
pekerjaan-pekerjaan yang inisiatifnya tidak timbul dari masyarakat itu sendiri
berasal dari luar (biasanya dari atas).
D. SIFAT, HAKIKAT,
DAN GEJALA MASYARAKAT PEDESAAN
Seperti
dikemukakan oleh para ahli atau sumber bahwa masyarakat rakyat Indonesia yang
tinggal di pedesaan bermata pencaharian yang bersifat agraris. Masyarakat
pedesaan yang agraris biasanya dipandang antara sepintas kilas dinilai oleh
orang-orang kota sebagai masyarakat tentang damai, harmonis yaitu masyarakat
yang adem ayem, sehingga oleh orang kota dianggap sebagai tempat untuk
melepaskan lelah dari segala kesibukan keramaian dan keruwetan atau kekusutan
pikir.
Maka tidak
jarang orang kota melepaskan segala kekalahan dan kekusutan pikir
tersebut pergilah mereka ke luar kota, karena merupakan tempat yang adem
ayem, penuh ketenangan. Tetapi sebetulnya ketenangan masyarakat pedesaan itu
hanyalah terbawa oleh sifat masyarakat itu yang oleh Ferdinand Tonies
diistilahkan dengan masyarakat gemeinschaft (paguyuban). Jadi Paguyuban
masyarakat itulah yang menyebabkan orang-orang kota menilai sebagai masyarakat
itu tenang harmonis, rukun dan damai dengan julukan masyarakat yang adem ayem.
Didalam masyarakat
pedesaan kita mengenal berbagai macam gejala, khususnya tentang perbedaan
pendapat atau paham yang sebenarnya hal ini merupakan sebab-sebab bahwa di
dalam masyarakat pedesaan penuh dengan ketegangan –ketegangan sosial.
Gejala-gejala sosial yang sering diistilahkan dengan :
a.
Konflik
b.
Kontraversi (pertentangan)
c.
Kompetisi
d.
Kegiatan pada masyarakat pedesaan
Maksudnya
disini adalah masyarkat pedesaan memiliki penilaian tinggi terhadap orang yang
bisa bekerja sendiri tanpa orang lain
E. SISTEM BUDAYA
PETANI INDONESIA
Para petani di Indonesia terutama di Jawa pada
dasarnya menganggap bahwa hidupnya itu sebagai sesuatu hal yang buruk, penuh
dosa, kesengsaraan. Tetapi itu tidak berarti bahwa ia harus menghindari hidup
yang nyata dan menghindarkan diri dengan bersembunyi di dalam kebatinan atau
dengan bertapa, bahkan sebaliknya wajib menyadari keburukan hidup itu dengan
jelas berlaku prihatin dan kemudian sebaik-baiknya dengan penuh usaha atau
ikhtihar.
Mereka
beranggapan bahwa orang bekerja itu untuk hidup, dan kadang-kadang untuk
mencapai kedudukannya.
Mereka
berorientasi pada masa ini (sekarang), kurang memperdulikan masa depan, mereka
kurang mampu untuk itu. Bahkan kadang-kadang ia rindu masa lampau, mengenang
kekayaan masa lampau (menanti datangnya kembali sang ratu adil yang membawa
kekayaan bagi mereka).
Mereka
menganggap alam tidak menakutkan bila ada bencana alam atau bencana lain itu
hanya merupakan sesuatu yang harus wajib diterima kurang adanya agar
peristiwa-peristiwa macam itu tidak berulang kembali. Mereka cukup saja dengan
menyesuaikan diri dengan alam, kurang adanya usaha untuk menguasainya.
Dan untuk
menghadapi alam mereka cukup dengan hidup bergotomg royong, mereka sadar bahwa
dalam hidup itu pada hakikatnya tergantung kepada sesamanya.
7.5 PERBEDAAN MASYARAKAT PERKOTAAN DAN PEDESAAN
Kehidupaan masyarakat desa berbeda dengan masyarakat kota. Perbedaan yang
paling mendasar adalah keadaan lingkungan, yang mengakibatkan dampak terhadap
personalitas dan segi-segi kehidupan. Kesan masyarakat kota terhadap masyarakat
desa adalah bodoh, lambat dalam berpikir dan bertindak, serta mudah tertipu
dsb. Kesan seperti ini karena masyarakat kota hanya menilai sepintas saja,
tidak tahu, dan kurang banyak pengalaman.
Untuk memahami masyarakata pedesaan dan perkotaan tidak mendefinisikan
secara universal dan obyektif. Tetapi harus berpatokan pada ciri-ciri
masyarakat. Ciri-ciri itu ialah adanya sejumlah orang, tingal dalam suatu
daerah tertentu, ikatan atas dasar unsur-unsur sebelumnya, rasa solidaritas,
sadar akan adanya interdepensi, adanya norma-norma dan kebudayaan.
Masyarakat pedesaan ditentukan oleh bentuk fisik dan sosialnya, seperti ada
kolektifitas, petani iduvidu, tuan tanah, buruh tani, nelayan dsb.
Masyarakat pedesaan
maupun masyarakat perkotaan masing-masing dapat diperlakukan sebagai sistem
jaringan hubungan yang kekal dan penting, serta dapat pula dibedakan masyarakat
yang bersangkutan dengan masyarakat lain. Jadi perbedaan atau ciri-ciri kedua
masyarakat tersebut dapat ditelusuri dalam hal lingkungan umumnya dan orientasi
terhadap alam, pekerjaan, ukuran komunitas, kepadatan penduduk,
homogenitas-heterogenotas, perbedaan sosisal, mobilitas sosial, interaksi
sosial, pengendalian sosial, pola kepemimpinan, ukuran kehidupan, solidaritas
sosial, dan nilai atau sistem lainnya.
7.6 STUDI KASUS
Bagi
masyarakat perkotaan, ketika mereka ingin berlibur, pasti mereka ingin berlibur
di suatu desa yang sejuk dan damai, yang jauh dari kebisingan kota yang selama
ini bergulat dengannya. Begitu pula bagi masyarakat pedesaan, ketika merasa
pekerjaan di desa sudah tidak mencukupi lagi, pasti mereka ingin hijrah ke kota
untuk mengadu nasib yang lebih baik lagi. Di sini terjadi hubungan antara
keduanya. Ketika salah seorang dari kota pergi berlibur ke suatu desa,
mereka bertemu dengan penduduk di desa tersebut. Dia bisa saja membawa salah
satu dari orang desa tersebut untuk bekerja di kota karena ia melihat pekerjaan
di desa sudah tidak mendukung dan masih banyak pekerjaan di kota yang
menjanjikan. Di sinilah peran masyarakat kota untuk membuat lapangan pekerjaan untuk
orang-orang dari desa yang hijrah ke kota. Jika semakin banyak masyarakat desa
yang hijrah ke kota, maka seharusnya semakin banyak pula lapangan pekerjaan
yang harus disediakan. Tapi, jika lapangan pekerjaan yang disediakan sedikit,
sedangkan masyarakat desa yang hijrah ke kota semakin banyak, maka justru akan
terjadi peningkatan angka pengangguran di kota.
Tanggapan :
Sebagai makhluk sosial,
manusia tidak bisa lepas dari sifat bergantung pada manusia lainnya. Seperti
contoh kasus diatas yang merupakan gambaran dari hubungan masyarakat desa
dengan masyarakat kota. Masyarakat perkotaan secara tidak langsung membutuhkan
adanya masyarakat pedesaan, begitu pula dengan sebaliknya, masyarakat pedesaan
juga membutuhkan keberadaan masyarakat perkotaan, meskipun keduanya memiliki
perbedaan ciri-ciri dan aspek-aspek yang terdapat di dalam diri mereka.
Keduanya memiliki aspek positif dan aspek negatif yang saling mempengaruhi
keduanya dan saling berkesinambungan. Jika mereka bisa bekerja sama dengan baik
maka tentunya kesenjangan sosial yang membatasi mereka dapat terkikis.
7.7 KESIMPULAN
Masyarakat pedesaan adalah sekelompok orang yang mendiami
suatu wilayah dan mempunyai hubungan yang erat serta perasaan yang sama
terhadap adat kebiasaan yang ada dan menunjukkan adanya kekeluargaan, seperti
gotong royong dan tolong-menolong. Masyarakat pedesaan mencari mata pencaharian
dengan cara bertani di sawah atau di ladang, di desa belum mengenal teknologi
canggih yang telah ada dizaman modern. Sedangkan masyarakat perkotaan merupakan
suatu himpunan penduduk yang bertempat tinggal di dalam pusat kegiatan ekonomi,
pemerintahan kesenian, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Masyarakat kota mencari
mata pencahariannya rata-rata menggunakan tekhnologi yang canggih, seperti
menggunakan tenaga mesin, komputer dan lain-lain.
Meskipun banyak sekali perbedaan antara masyarakat desa dan
kota, namun diantara kedua komponen tersebut memiliki hubungan yang signifikan,
artinya kehidupan perekonomian di kota tidak akan berjalan dengan baik apabila
tidak ada pasokan tenaga atau barang dari desa begitu juga sebaliknya.
DAFTAR ISI
Ahmadi,
Abu. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Bachtiar,
Harsya W. Masalah Integrasi Nasional di Indonesia. Jakarta: Prisma
LP3ES
Munandar,
Soelaiman, Ilmu Sosial Dasar.Bandung
: Refika Aditama, 2001
Nasikun. Sistem
Pelapisan Sosial Indonesia. Jakarta: Rajawali, 1984
H.
Hartomo, Drs dan Arnicun Aziz, Dra, MKDU ISD, Bumi Aksara, Desember,
1990
Ahmadi, Abu. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : Rineka Cipta 2003
Nasution, Muhammad Syukri
Albani,dkk. Ilmu Sosial Budaya Dasar.
Jakarta: Raja Gravindo Persada, 2015
Setiadi, Elly, dkk. Ilmu Sosial & Budaya Dasar. Jakarta:
Kencana, 2006.
http://rizkifathur.blogspot.com/2013/01/contoh-kasus-masyarakat-pedesaan-dan.html

Komentar
Posting Komentar