Pemuda dan Sosialisasi
ILMU
SOSIAL DASAR
DOSEN
PEMBIMBING :
DITIYA
HIMAWATI, SE.,MM.
DISUSUN
OLEH :
MAHARANI
DITA APRILIANI
NPM : 23318931
KELAS 1TB05
UNIVERSITAS
GUNADARMA
FAKULTAS
TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
JURUSAN
TEKNIK ARSITEKTUR
TAHUN 2018/2019
PEMUDA DAN SOSIALISASI
4.1
Internalisasi Belajar dan Spesialisasi
A.
Pengertian Pemuda
Pemuda
adalah golongan manusia-manusia muda yang masih memerlukan pembinaan dan
pengembangan kearah yang lebih baik, agar dapat melanjutkan dan mengisi
pembangunan yang kini telah berlangsung, pemuda di Indonesia dewasa ini sangat
beraneka ragam, terutama bila dikaitkan dengan kesempatan pendidikan. Keragaman
tersebut pada dasarnya tidak mengakibatkan perbedaan dalam pembinaan dan
pengembangan generasi muda.
Proses
kehidupan yang dialami oleh para pemuda Indonesia tiap hari baik di lingkungan
keluarga, sekolah, maupun masyarakat membawa pengauh yang besar pula dalam
membina sikap untuk dapat hidup di masyarakat. Proses demikian itu bisa disebut
dengan istilah sosialisasi, proses sosialisasi itu berlangsung sejak anak ada
di dunia dan terus akan berproses hingga ia dewasa kelak.
Pemuda
juga merupakan suatu generasi yang dipundaknya terbebani bermacam—macam harapan,
terutama dari generasi lainnya. Hal ini dapat dimengerti karena pemuda
diharapkan sebagai generasi penerus, generasi yang akan melanjutkan perjuangan
generasi sebelumnya, generasi yang harus mengisi dan melangsungkan estafeta
pembangunan secara terus menerus.
Lebih
menarik lagi pada generasi ini mempunyai permasalahan- permasalahan yang sangat
bervariasi, di mana jika permasalahan ini tidak dapat diatasi secara
proporsional maka pemuda akan kehilangan fungsinya sebagai penerus pembangunan.
Di samping mengatasi berbagai permasalahan, pemuda memiliki potensi – potensi
yang melekat pada dirinya dan sangat penting artinya sebagai sumber daya
manusia. Oleh karena itu berbagai potensi—potensi positif yang dimiliki
generasi muda ini harus digarap, dalam arti pengembangan dan pembinaannya
hendaknya harus sesuai dengan asas, arah dan tujuan pengembangan dan pembinaan
generasi muda di dalam jalur – jalur pembinaan yang tepat senantiasa bertumpu
pada strategi pencapaian tujuan nasional sebagaimana terkandung di dalam
Pembukaan Undang—Undang Dasar 1945 alinea IV.
B.
Pengertian Sosialisasi
Sosialisasi
adalah proses yang membantu individu melalui belajar dan penyesuaian diri,
bagaimana bertindak dan berpikir agar ia dapat berperan dan berfungsi, baik
sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Proses sosialisasi
sebenarnya berawal dari dalam keluarga. Bagi anak—anak yang masih kecil,
situasi sekelilingnya adalah keluarga sendiri. Gambaran diri mereka merupakan
pantulan perhatian yang diberikan keluarga kepada mereka. Persepsi mereka
tentang dirinya dunia dan masyarakat di sekelilingnya secara langsung
dipengaruhi oleh tindakan dan keyakinan keluarga—keluarga mereka. Nilai—nilai
yang dimiliki oleh individu dan berbagai peran diharapkan dilakukan oleh
seseorang, semuanya berawal dari dalam lingkungan keluarga sendiri.
Melalui
proses sosialisasi,individu(pemuda) akan terwarnai cara berpikir dan
kebiasaan—kebiasaan hidupnya dengan proses sosialisasi,individu menjadi tahu
bagaimana ia mesti bertingkah laku di tengah tengah masyarakat dan lingkungan.
Kepribadian seseorang melalui proses sosialisasi dapat terbentukdi mana
kepribadian itu merupakan suatu komponen pemberi atau penyebab warna dari wujud
tingkah laku sosial manusia. Jadi dalam hal ini sosialisasi merupakan salah
satu proses belajar kebudayaan dari anggota masyarakat dalam hubungannya dengan
sistem sosial. Dalam proses tersebut seorang individu dari masa anak-anak.
C.
Internalisasi Belajar dan Sosialisasi
Ketiga kata atau
istilah tersebut pada dasarnya memiliki pengertian yang hampir sama. Proses
berlangsungnya sama yaitu melalui interaksi sosial. istilah internasilasasi
lebih ditekankan pada norma-nroma individu yang menginternasilasikan
norma-norma tersebut. Istilah belajar ditekankan pada perubahan tingkah laku,
yang semula tidak dimiliki sekarang telah dimiliki oleh seorang individu.
istilah spesialisasi ditekankan pada kekhususan yagn telah dimiliki oleh
seorang individu, kekhususan timbul melalui proses yang agak panjang dan lama.
Masa remaja adalah masa
transisi dan secara psikologis sangat problematic.
Ini memungkinkan mereka berada dalam anomi (keadaan tanpa norma atau hukum)
akibat kontradiksi norma maupun orientasi mendua. Sehingga kerap kali muncul
perilaku menyimpang atau kecenderungan melakukan pelanggaran. Anomi menurut
Enoch Markum muncul akibat keanekaragaman dan kekaburan norma.
-
Orientasi Mendua
Menurut Dr.Male
orientasi adalah yag bertumpu pada harapa orang tua, masyarakat dan bangsa yang
sering brtetangan dengan keterikatan serta loyalitas terhadap teman sebaya. Keadaan
bimbang akibat orientasi mendua menurut Dr.Male juga menyebabkan remaja
melakukan aksi bunuh diri.
Enoch Markum memberikan
2 alternatif pemecahan masalah yaitu mengaktifkan kembali fungsi keluarga dan
kembali pada pendidikan agama, menegakkan hukum akan berpengaruh besar bagi
remaja dalam proses pengukuhan identitas dirinya.
a. Peran Media Massa
Ciri-ciri
peralihan masa remaja dari kanak-kanak menuju masa dewasa yatu keinginan
memenuhi dan menyataka identitas diri, kemampuan melepas dri dari ketergantungan
orang tua, kebutuhan memperoleh akseptabilitas ditengah sesama remaja.
Ciri
ciri ini menyebabkan kecenderungan remaja melahap begitu saja arus informasi
yang serasi dengan selera dan keinginan mereka.
Sehingga
perlunya membekali remaja dengan keterampilan berinformasi yang mencakup
kemampuanmenemukan, memilih, menggunakan, dan mengevaluasi informasi Dengan
melakukan intervensi ke dalam lingkungan informasi mereka secar interpersoal
dan bimbingan orang tua dalam mengkonsumsi media massa.
b. Perlu Dikembangkan
Masalah
kepemudaan dapat ditinjau dari 2 asumsi, yatu:
1. Penghayatan mengenai proses
perkembangan bukan sebagai suatu kontinum yang sambung menyambung tapi
fragmentasi, terpecah dan setiap fragmen mempunyai arti sendiri. Pemuda
dibedakan dari anak dan orang tua dan masing-masing fragmen itu mewakili nilai
sendiri.Oleh sebab itu,arti setiap masa perkembangan hanya dapat dimengerti dan
dinilai dari masa itu sendiri.Dinamika pemuda tidak lebih dari usaha untuk
menyesuaiakan diri dengan pola-pola kelakuan yang sudah tersedia dan setiap
bentuk kelakuan yang menyimpang akan dicap sebagai yang anomalis,yang tak
sewajarnya.
2. Posisi pemuda dalam arah kehidupan itu sendiri. Dinamika
pemuda tidak dilihat sebagai sebagian dari dinamika atau lebih tepat sebagian
dari dinamika wawasan kehidupan.Hal ini disebabkan oleh suatu anggapan bahwa
pemuda tidak mempunyai andil yang berarti dalam ikut mendukung proses kehidupan
bersama dengan masyarakat.
D.
Proses Sosialisasi
Proses
sosialisasi generasi muda adalah suatu proses yang sangat menentukan kemampuan diri
pemuda untuk menselaraskan diri di tengah – tengah kehidupan masyarakatnya.
Oleh karena itu pada tahapan pengembangan dan pembinaannya, melalui proses
kematangan dirinya dan belajar pada berbagai media sosialisasi yang ada di
masyarakat, seorang pemuda harus mampu menseleksi berbagai
kemungkinan yang ada sehingga mampu mengendalikan diri dalam hidupnya di
tengah—tengah masyarakat, dan tetap mempunyai motivasi sosial yang tinggi.
Setiap individu dalam
masyarakat yang berbeda mengalami proses sosialisasi yang berbeda pula, karena
proses sosialisasi banyak ditentukan oleh susunan kebudayaan dan lingkungan
sosial yang bersangkutan. Jadi sosialisasi dititikberatkan soal individu dalam
kelompok melalui pendidikan dan perkembangannya. Oleh karena itu proses
sosialisasi melahirkan kedirian (self)
dan kepribadian seseorang terhadap diri sendiri dan memandang adanya pribadi
orang lain di luar dirinya.
Proses sosialisasi ini
berarti tidak berhenti sampai pada keluarga, tapi masih ada lembaga lainnya.
Cohen (1983) menyatakan bahwa lembaga—lembaga sosialisasi yang terpenting ialah
keluarga, sekolah, kelompok sebaya dan media masa. Dengan demikian sosialisasi
dapat berlangsung secara formal ataupun informal. Secara formal, proses
sosialisasi lebih teratur karena di dalamnya disajikan seperangkat ilmu
pengetahuan secara teratur dan sistematis serta dilengkapi oleh perangkat norma
yang tegas dan harus dipatuhi oleh setiap individu. Proses sosialisasi ini
dilakukan secara sadar dan sengaja. Sedangkan yang informal,proses sosialisasi
bisa juga terjadi melalui interaksi pergaulan informal. Sosialisasi ini
bersifat tidak sengaja, terjadinya ini bila seseorang individu mempelajari
pola—pola keterampilan, norma atau perilaku melalui pengamatan informal
terhadap interaksi orang lain.
Terlepas dari media dan
cara sosialisasinya kita harus menetapkan pilihan model daripada sosialisasi.
Ada dua model proses sosialisasi, yaitu :
(a) Model deterministik
Dalam model yang
pertama ini individu ditentukn segalanya. Keinginan, cita-cita kebebasan dapat
dikatakan tidak mendapatkan tempat. Secara lebih konkret aturan, kebiasaan,
norma yang tidak boleh diusik-usik. Individu yangmempunyai gagasam yang berbda
dengan norma yang berlaku tidak mendapat tempat. Kepentingan bersama atau
kolektivitas harus menjadi pertimbangan utama.
(b) Model aktualisasi
Dalam model yang kedua
ini individu dipandang sebagai suatu potensi yang harus di kembangkan. Individu hendaknya diberi kebebasan untuk
mengembangkan potensinya. Segala tindakan hendaknya dikerahkan untuk memberikan
kemudahan dalam perkembangan serta pemenuhan dirinya secara maksimal.
Dalam model yang kedua
ini selanjutknya dikatakan individu yang mempunyai potensi sebagaimana adanya
sekarang dan dalam proses menjadi tidak mungkin mengaktualisasikan diri bila
tidak diberi kebebasan berkembang.Apalagi bila secara absolut dikendalikan.
E. Peran Sosial Mahasiswa dan Pemuda di
Masyarakat.
Peranan pemuda di dalam
masyarakat dapat kita bedakan atas dua hal, yaitu :
A. Peranan pemuda yang
didasarkan atas usaha pemuda untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan
lingkungannya. Berdasarkan peran yang pertama dibedakan atas :
1) Peranan pemuda
sebagai individu—individu yang meneruskan tradisi mendukung tradisi yan ada dan
oleh sebab itu dengan sendirinya berusaha mentaati tradisi yang berlaku,
kebudayan yang berlaku dalam tingkah laku perbuatan masing—masing. Dalam
hubungannya dengan persoalan ini menjadi kewajiban bagi pemuda untuk
melestarikan kebudayaan bangsa.
2) Peranan pemuda
sebagai individu—individu yang berusaha menyesuaikan diri, baik dengan
orang—orang atau golongan-golongan yang berusaha mengubah tradisi, dengan
demikian akan terjadi perubahan dalam tradisi dalam masyarakat.
Kedua jenis peranan
pemuda di atas bisa mengakibatkan sumbangan pada usaha pembangunan maupun
merupakan hambatan terhadap usaha
pembangunan. Pemuda yang berusaha untuk menjadi pendukung tradisi, pendukung
kebudayaan bisa merupakan bantuan dalam usaha –usaha pembangunan, tapi juga
bisa menjad penghambat/penetang pembangunan. Begitu juga pemuda yang berusaha
mengubah tradisi belum tentu menguntungkan pembangunan
B. Peranan pemuda yang
menolak dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Berdasarkan peran pemuda
yang kedua dibedakan atas :
1) Jenis Pemuda Urakan
Yaitu jenis pemuda yang
tidak bermaksud untuk mengadakan perubahan dalam masyarakat, tidak ingin untuk
mengadakan perubahan dalam kebudayaan, akan tetapi ingin kebebasan bagi dirinya
sendiri, kebebasan untuk menentukan kehendak diri sendiri. Kebudayaan seniman
dan sastrawan tergolong dalam jenis ini. Misalnya Chairil Anwar dan sebagainya.
2) Jenis Pemuda Nakal
Pemuda—pemuda ini pun
tidak ingin, tidak berniat dan tidak bermaksud untuk mengadakan perubahan dalam
masyarakat ataupun kebudayaan, melainkan berusaha memperoleh manfaat dari
masyarakat dengan melakukan tindakan yang mereka anggap menguntungkan dirinya
tetapi merugikan masyarakat.
3) Jenis Pemuda Radikal
Pemuda—pemuda radikal
berkeinginan untuk mengadakan perubahan dalam masyarakat dan kebudayaan secara
radikal, revolusioner. Mereka tak puas, tak bisa menerima kenyataan—kenyataan
yang mereka hadapi dan oleh sebab itu mereka berusaha baik secara lisan maupun
dalam tindakan untuk mengadakan perubahan dalam masyarakat tanpa rencana jangka
panjang asal saja keadaan berubah sekarang juga.
4.2 Pemuda dan
Identitas
A.Pola Dasar Pembinan
dan Pengembangan Generasi Muda
Pola
Dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan dalam keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor :
0323/U/1978 tanggal 28 Oktober 1978. Maksud dari Pola Pembinaan dan Pengembangan
Generasi Muda adalah agar semua pihak yang turut serta dan berkepentingan dalam
penanganannya benar—benar menggunakan sebagai pedoman schingga pelaksanaannya
dapat terarah, menyeluruh dan terpadu serta dapat mencapai sasaran dan tujuan
yang dimaksud.
Pola
Dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda disusun berlandaskan beberapa
landasan, yaitu :
1) Landasan
idiil : Pancasila
2) Landasan
konstitusional : Undang—Undang Dasar
1945
3) Landasan
strategis : Garis—garis Besar
Haluan Negara
4) Landasan historis : Sumpah Pemuda Tahun 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945
5) Landasan normatif : Etika, tata nilai dan tradisi
luhur yang hidup dalam masyarakat.
Motivasi
dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda bertumpu pada strategi pencapaian
tujuan nasional, seperti telah terkandung di dalam Pembukaan UUD 1945 alinea
IV.
Atas
dasar kenyataan di atas diperlukan penataan kehidupan pemuda karena pemuda
perlu memainkan peranan yang penting dalam pelaksanaan pembangunan. Hal
tersebut mengingat masa depan adalah kepunyaan generasi muda, namun disadari
pula bahwa masa depan tidak berdiri sendiri. Ia adalah lanjutan masa sekarang
dan masa sekarang adalah hasil masa lampau. Dalam hal ini, maka Pembinaan dan
Pengembangan Generasi Muda haruslah menanamkan motivasi kepekaan terhadap masa
datang sebagai bagian mutlak masa kini. Kepekaan terhadap masa datang membutuhkan
pula kepekaan terhadap situasi situasi lingkungan, untuk dapat merelevansikan
partisipannya dalam setiap kegiatan bangsa dan negara. Untuk itu pula kualitas
kesejahteraan yang membawa nilai—nilai dasar bangsa merupakan faktor penentu
yang mewamai pembinaan generasi muda dan bangsa dalam memasuki masa datang.
Tanpa
ikut sertanya generasi muda, pembangunan ini sulit berhasil bukan saja karena
pemuda merupakan lapisan masyarakat yang cukup besar, tetapi yang lebih penting
tanpa kegairahan dan kreatifitas pemuda maka pembangunan bangsa kita dalam
jangka panjang dapat kehilangan kesinambungannya
Apabila
pemuda pada masa sekarang terpisah dari persoalan-persoalan masyarakatnya maka
sulit akan lahir pemimpin masa datang yang
dapat memimpin bangsaya sendiri.
B.
Pengertian Pokok Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda
Dalam
hal ini Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda menyangkut dua pengertian
pokok, yaitu :
a)
Generasi muda sebagai subyek pembinaan dan pengembangan adalah mereka yang
telah memiliki bekal—bekal dan kemampuan serta landasan untuk dapat mandiri
dalam keterlibatannya secara fungsional bersama potensi lainnya, guna
menyelesaikan masalah—masalah yang dihadapi bangsa dalam rangka kehidupan
berbangsa dan bernegara serta pembangunan nasional
b)
Generasi muda sebagai obyek pembinaan dan pengembangan ialah mereka yang masih
memerlukan pembinaan dan pengembangan ke arah pertumbuhan potensi dan
kemampuan-kemampuannya ke tingkat yang optimal dan belum dapat bersikap mandiri
yang melibatkan secara fungsional.
C.
Masalah Generasi Muda
Berbagai
permasalahan generasi muda yang muncul pada saat ini antara lain :
a) Dirasa
menurunnya jiwa idealisme, patriotisme dan nasionalisme di kalangan masyarakat
termasuk generasi muda.
b) Kekurangpastian
yang dialami oleh generasi muda terhadap masa depannya.
c) Belum
seimbangnya antara jumlah generasi muda dengan fasilitas pendidikan yang tersedia,
baik yang formal maupun non formal. Tingginya jumlah putus sekolah yang
diakibatkan oleh berbagai sebab yang bukan hanya merugikan generasi muda
sendiri, tetapi juga merugikan seluruh bangsa.
d) Kurangnya lapangan kerja/kesempatan kerja
serta tingginya tingkat pengangguran/setengah pengangguran di kalangan generasi
muda dan mengakibatkan berkurangnya produktivitas nasional dan memperlambat
kecepatan laju perkembangan pembangunan nasional serta dapat menimbulkan
berbagai problem sosial lainnya.
e) Kurangnya
gizi yang dapat menyebabkan hambatan bagi perkembangan kecerdasan dan
pertumbuhan badan di kalangan generasi muda, hal tersebut disebabkan oleh
rendahnya daya beli dan kurangnya perhatian tentang gizi dan menu makanan seimbang
di kalangan masyarakat yang berpenghasilan rendah.
f) Masih
banyaknya perkawinan di bawah umur, terutama di kalangan masyarakat daerah
pedesaan.
g) Pergaulan
bebas yang membahayakan sendi—sendi perkawinan dan kehidupan keluarga.
h) Meningkatnya
kenakalan remaja termasuk penyalahgunaan narkotika.
i) Belum adanya
peraturan perundangan yang menyangkut generasi muda.
Dalam
rangka untuk memecahkan permasalahan generasi muda tersebut di atas memerlukan
usaha—usaha terpadu, terarah dan berencana dari seluruh potensi nasional dengan
melibatkan generasi muda sebagai subyek pembangunan. Organisasi—organisasi pemuda
yang telah berjalan baik adalah merupakan potensi yang siap untuk dilibatkan
dalam kegiatan pembangunan nasional.
D. Potensi—potensi
Generasi Muda/Pemuda
Potensi—potensi
yang terdapat pada generasi muda perlu dikembangkan adalah :
a)
Idealisme dan Daya Kritis
Secara
sosiologis generasi muda belum mapan dalam tatanan yang ada, maka ia dapat
melihat kekurangan—kekurangan dalam tatanan dan secarwajar mampu mencari
gagasan baru.
Pengejawantahan
idealisme dan daya kritis perlu untuk senantiasa dilengkapi dengan landasan rasa tangggung jawab yang seimbang.
b)
Dinamika dan Kreatifitas
Adanya
idealisme pada generasi muda, maka generasi muda memiliki potens kedinamisan
dan kreatifitas yakni, kemampuan dan kesediaan untuk mengadakan perubahan, pembaharuan dan
penyempurnaan kekurangan—kekurangan yang ada ataupun mengemukakan gagasan—gagasan/alternatif
yang baru sama sekali.
c)
Keberanian Mengambil Resiko
Perubahan
dan pembaharuan termasuk pembangunan, mengandung resiko dapat meleset, terhambat
atau gagal. Namun mengambil resiko itu adalah perlu jika kemajuan ingin
diperoleh. Generasi muda dapat dilibatkan pada usaha—usaha yang menggandung
resiko, kesiapan pengetahuan, perhitungan dan keterampilan dari generasi muda
yang akan memberi kualitas yang baik kepada keberanian mengambil resiko.
d)
Optimis dan kegairahan semangat.
Kegagalan
tidak menyebabkan generasi muda patah semangat. Optimisme dan kegairahan
semangat yang dimiliki generasi muda akan merupakan daya pendorong untuk
mencoba maju lagi.
e)
Sikap kemandirian dan disiplin murni.
Generasi muda memiliki keinginan
untuk selalu mandiri dalam sikap dan tindakannya. Sikap kemandirian itu perlu
dilengkapi dengan kesadaran disiplin mumi pada dirinya, agar dengan demikian
mereka dapat menyadari batas-batas yang wajar dan memiliki tenggang rasa.
f)
Terdidik
Walaupun
dengan memperhitungkan faktor putus sekolah, secara menyeluruh baik dalam arti
kuantitatif maupun dalam arti kualitatif generasi muda secara relatif lebih
terpelajar karena lebih terbukanya kesempatan belajar dari generasi—generasi
pendahulunya.
g)
Keanekaragaman dalam Persatuan dan Kesatuan
Keanekaragaman
generasi muda merupakan cermin dari keanekaragaman masyarakat kita.
Keanekaragaman tersebut dapat merupakan hambatan jika hal itu dihayati secara
sempit dan eksklusif. Tapi keanekaragaman masyarakat Indonesia dapat merupakan
potensi dinamis dan kreatif jika keanekaragaman itu ditempatkan dalam rangka
integrasi nasional yang didasarkan atas semangat dan jiwa Sumpah Pemuda tahun
1928 serta kesamaan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Sehingga dengan demikian
merupakan sumber yang kaya untuk kemajuan bangsa itu sendiri. Untuk itu generasi
muda perlu didorong untuk menampilkan potensinya yang terbaik dan diberi peran
yang jelas serta bertanggung jawab dalam menunjang pembangunan nasional.
h)
Patriotisme dan Nasionalisme
Pemupukan
rasa kebanggaan, kecintaan dan turut serta memiliki bangsa dan negara di kalangan
generasi muda perlu lebih digalakkan, pada gilirannya akan mempertebal semangat
pengabdian dan kesiapannya untuk membela dan mempertahankan bangsa dan negara
dari segala bentuk ancaman. Dengan tekad dan semangat ini generasi muda perlu
dilibatkan dalam setiap usaha dan pemantapan ketahanan dan pertahanan nasional.
i)
Sikap Kesatria
Kemurnian
idealisme keberanian, semangat pengabdian dan pengorbanan seta rasa tagung jawa
sosial yag tinggi adalah unsur—unsur yang perlu di pupuk dan dikembangkan terus
menjadi Sikap kesatria di kalangan generasi muda Indonesia sebagai pembela dan penegak
kebenaran dan keadilan bagi masyarakat
dan bangsa.
j)
Kemampuan Penguasaan Ilmu dan Teknologi
Generasi
muda dapat berperan serta berdaya guna dalam rangka pengembangan ilmu dan
teknologi bila secara fungsional dapat dikembang dinamisator terhadap lingkungannya
yag lebih terbelakang dalam ilmu dan pendidikan serta penerapan teknologi,
baik yang maju, madya maupun yang
sederhana.
Meskipun
sosialisasi itu mungkin berbeda beda dalam berbagai lembaga, kelompok maupun
masyarakat, namun sasaran sosialisasi itu sendiri banyak memiliki kesamaan . Tujuan
pokok sosialisasi adalah :
1). Individu
harus diberi ilmu pengetahuan (keterampilan) yang dibutuhkan bagi kehidupan
kelak di masyarakat.
2). Individu.
harus mampu berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan kemampuannya.
3). Pengendalian
fungsi—fungsi organik yang dipelajari melalui latihan-latihan mawas diri yang
tepat.
4.) Bertingkah
laku selaras dengan norma atau tata nilai dan kepercayaan pokok yang ada pada
lembaga atau kelompok khususnya dan masyarakat umumnya.
Faktor lingkungan dalam proses sosialisasi memegang peranan
penting, karena dalam proses sosialisasi pemuda terus berlanjut dengan segala
imitasi dan identitasnya.
Pengalaman demi
pengalama akan diperoleh pemuda dari lingkungan sekelilingnya. Lebih-lebih pada
masa peralihan dari masa muda menjelang
dewasa, dimana sering terjadi konflik nilai, wadah pembinaan harus
bersifat fleksibel, mampu mengerti dalam membina pemuda harus mematikan jiwa
mudanya yang penuh dengan fasilitas hidup.
4.3 PERGURUAN DAN PENDIDIKAN
A. Mengembangkan
Potensi Generasi Muda
Jika pada ke abad
20 ini Planet Bumi ini dihuni oleh mayoritas penduduk berusia muda,dengan
perkiraan berusia 17 tahunan, tentu akan menimbulkan beberapa pertanyaan. Dua
di antara deretan yang muncul adalah : Apakah generasi muda itu telah mendapat
kesempatan mengenyam dunia pendidikan dan keterampilan sebagai modal utama bagi
insan pembangunan? Sampai di mana penyelenggaraan pendidikan formal dan non formal
berperan bagi pembangunan,terutama bagi negara—negara yang sedang berkembang ?
Pada
kenyataannya negara—negara sedang berkembang masih banyak mendapat kesulitan
untuk penyelenggaraan, pengembangan tenaga usia muda melalui pendidikan.
Sehubungan dengan itu negara-egara sedang berkembang merasakan selalu
kekurangan tenaga terampil dalam mengisi lowongan—lowongan pekerjaan tertentu
yang meminta tenaga kerja dengan keterampilan khusus. Kekurangan tenaga
terampil tu terasa manakala negara—negara sedang berkembang merencakanakan dan
berambisi untuk mengembangkan dan memanfaatkan sumber—sumber alam yang mereka
miliki. Misalnya dalam eksplorasi dan eksploitasi sektor pertambangan baik yang
berlokasi di darat maupun yang ada di lepas pantai
Hal
yang sama juga dirasakan manakala negara – negara sedang berkembang bemniat
untuk melaksanakan program-program industrialisasi yang menuntut tenaga—tenaga
terampil berkualitas tinggi.
Di
negara—negara maju, salah satu diantaranya adalah Amerika Serikat. Di negeri
ini pada umumnya para generasi muda mendapat kesempatan luas dalam
mengembangkan kemampuan dan potensi idenya. Para mahasiswa sebagai bagian dari
generasi muda, didorong, dirangsang dengan berbagai motivasi dan dipacu untuk
maju dalam berlomba menciptakan suatu ide/gagasan yang harus diwujudkan dalam
suatu bentuk barang,dengan berorientasi pada teknologi mereka sendiri. Untuk
mengembangkan ide—ide/ gagasan—gagasaan itu, Institut Teknologi Maschussests
(MIT) Universitas Oregon dan Universitas Camegie Mellon (CMU) pada tahun 1973
di Pittsburgh, Pennsylvania, telah membuat proyek bersama berjangka lima tahunan,
melibatkan sekitar 600 mahasiswa dan 55 anggota fakultas dalam program—program
belajar dan membaharu dalam wadah Nasional Science Foundation (NSF), dimasing—masing
pusat inovasi universitas—universitas tersebut. Hasil yang dicapai proyek itu :
Lebih dari dua lusin produk, proses atau pelayanan baru telah dipasarkan dan
menciptakan hampir 800 pekerjaan baru, dan memperoleh hasil penjualan sebesar
$46,5 juta
Gagasan
dan pola kerja yang hampir serupa telah dikembangkan pula di negara—negara Asia,
misalnya : Jepang, Korea Selatan, Singapura, Taiwan. Jerih payah dan ketentuan
para inovator pada sektor teknologi industri itu membawa negara negara itu tampil
dengan lebih meyakinkan sebagai negara negara yang berkembang mantap dalam
perekonomiannya.
Sebagaimana
upaya bangsa indonesia untuk mengembangkan potensi tenaga generasi muda agar
menjadi inovator—inovator yang memiliki keterampilan dan skill berkualitas
tinggi.
Pembinaan
sedini mungkin difokuskan kepada angkatan muda pada tingkat TP/SLTA, dengan
cara penyelenggaraan lomba karya ilmiah tingkat nasional oleh Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI). Minat
generasi muda untuk mengikuti lomba karya ilmiah dari berbagai cabang disiplin
ilmu itu ternyata lebih banyak dari perkiraan semula. Setiap tahun peserta
lomba karya ilmiah remaja itu semakin bertambah jumlahnya. Yang sangat
menggembirakan, dalam usia yang belia itu mereka telah mampu menghasilkan
karya—karya ilmiah yang cukup membuat kagum para cendikiawan tua.
Pembinaan
dan pengembangan potensi angkatan muda pada tingkat perguruan tinggi, lebih banyak
di arahkan dalam program. program studi dalam berbagai ragam pendidikan formal.
Mereka dibina di laboratorium—laboratorium dan pada kesempatan—kesempatan praktek
lapangan.
Kaum
muda memang betul betul merupakan suatu sumber bagi pengembangan masyarakat dan
bangsa. Oleh karena itu, pembinaan dan perhatian khusus harus diberikan bagi
kebutuhan dan pengembangan potensi mereka.
Namun demikian
tidak dapat disangkal bahwa kualitas sumber daya manusia merupakan faktor yang
sangat menentukan dalam proses pembangunan. Hal ini karena manusia bukan semata
mata menjadi obyek pembangunan, tetapi sekaligus juga merupakan subyek
pembangunan. Sebagai subyek pembangunan maka setiap orang harus terlibat secara
aktif dalam proses pembangunan; sedangkan sebagai obyek, maka hasil pembangunan
tersebut harus bisa dinikmati oleh setiap orang.
B. Pengertian
Pendidikan dan Perguruan Tinggi
Keberhasilan pembangunan sangat
ditentukan oleh berbagai faktor seperti kualitas sumber daya, tersedianya
sumber daya alam yang memadai, adanya birokrasi pemerinthan yang kuat dan
efisien.
Dari faktor untuk keberhasilan
pembangunan, disinilah arti penting pendidikan berada. Pendidikan adalah upaya
untuk terciptanya kualitas sumber daya manusia, sebagai masyarakat utama dalam
pembangunan agar tumbuh menjadi bangsa yang maju. Karena bangsa yang maju
didapatkan dari kualitas pendidikan penduduk yang ada pada bangsa tersebut.
Istilah Perguruan Tinggi identik
dengan istilah Perguruan Tinggi yang disebut dalam Peraturan Pemerintah No.30
th 1990, yaitu organisasi satuan pendidikan, yang menyelenggarakan pendidikan
di jenjang pendidikan tinggi, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Fungsi-fungsi
utama Perguruan Tinggi adalah :
1. Membina kualitas hasil dan kinerja Perguruan
Tinggi, agar dapat memberi sumbangan yang nyata kepada perkembangan di
masyarakat. Untuk dapat melaksanakan pembinaan kualitas yang baik, secara
periodik Perguruan Tinggi menyelenggarakan evaluasi-diri yang melibatkan semua
Unit Akademik Dasar. Evaluasi-diri sewajarnya dianggap sebagai perangkat
manajemen Perguruan Tinggi yang utama, karena setiap pengambilan keputusan
harus dapat mengacu pada hasil evaluasi-diri.
2.
Merencanakan pengembangan Perguruan Tinggi menghadapi perkembangan di
masyarakat.
3. Mengupayakan tersedianya sumberdaya untuk
menyelenggarakan tugas-tugas fungsional dan rencana perkembangan Perguruan
Tinggi.
D. Studi Kasus
Pemuda/pemudi
bisa dikatakan saat ini sangat rentan terhadap segala hal yang berkaitan dengan
segala hal dari segi pikiran dan materi, Karena pemuda memiliki tingkat
emosional yang tinggi, yang serba ingi tahu, serta ingin mencoba hal yang baru.
Mereka memiliki perkembangan yang kuat untuk mencari apa yang mereka inginkan demi
mencapai yang diinginkan. Tingkat emosional yang begitu besar membuat mereka
jadi bangkit dan semangat mencapai keinginannya.
Pemuda
zaman sekarang berbeda dengan yang lalu. Mulai dari segi pemikiran, pergaulan,
pemecahan masalah, dan lain-lain. Hal ini bisa disebabkan karena perkembangan
teknologi yang menjadikan informasi lebih mudah di dapat.
Tetapi
dengan mudahnya fasilitas yag telah tersedia, banyak pemuda yang
menyalahgunakan fasilitas tersebut. Seperti menyimpan film porno di dalam
handphone ataupun mencari situs yang tidak berguna di internet. Tak hanya itu, dengan
adanya perkembangan teknologi mereka jadi suka bermain game online hingga lupa waktu kuliah ataupun bekerja. Dengan
begitu, pemuda sangat mudah untuk dipengaruhi. Pergaulan pada jaman sekarang
juga bisa terbilang lebih parah dan rawan apabila keluarga yag bersangkutan
tidak mengawasinya dengan baik.
Pergaulan yang buruk
dapat berujung pemuda yang ada dalam lingkunan tersebut menjadi merokok, atau
meminum minuman alkohol, bahkan untuk mengkonsumsi narkoba sekalipun. Tak hanya
itu, pemuda yang memiliki sifat ingin tahu yang besar, disertai hormon yang ada
juga dapat berujung pada hamil diluar nikah, atau mungkin pemerkosaan serta
pelecehan seksual. Hal ini sudah banyak terjadi dimana-mana karena mereka tidak
bisa menahanemosional mereka. Hal yang berada dipikiran pemuda yang telah
terjerumus pada pergaulan tersebut adalah untuk bersenang-senang. Sebagai
pemuda seharusnya kita waspada, jangan mudah terpengaruh terhadap pergaulan
yang tidak baik. Semuanya harus dipikirkan secara matang agar hal yang tidak
diinginkan tidak terjadi.
Salah satu cara untuk
mencegah penyimpangan sosial tersebut adalah dengan diadakannya sosialisasi
tentang bahaya dari pergaulan bebas tersebut, adanya pengawasan orang tua,
pembinan dan pengembangan sikap generasi muda, serta mendalami nilai dan moral
dalam agama.
Contohnya bentuk
perilaku menyimpang 3 remaja putus sekolah (di Kelurahan Bontolebang Kecamatan
Galesong Utara Kabupaten Takalar) adalah mengkonsumsi minuman keras (ballo),
berkelahi, penyalahgunaan obat-obatan dan mencuri.
Penyebab perilaku menyimpang
3 remaja putus sekolah adalah cara berfikir remaja putus sekolah yang sulit
membedakan perilakuyang baik dengan buruk, mereka lebih cenderung mencari
kesenangan sesaat, sulit mengendalikan diri serta masih dangkalnya pemahaman
mereka terhadap agama yang mereka anut.
Pengaruh pola asuh
orangtua yang kurang tepat dalam mendidik anak seperti memberikan kebebasan
tanpa adanya kontrol serta hilangnya fungsi orang tua (bapak) dalam mendidik
remaja putus sekolah di Kelurahan Bontolebang. Dalam hal ini orangtua tidak
memberikan teladan yang baik untuk anaknya. Dampak perilaku menyimpang 3 remaja
putus sekolah adalah terganggunya kesehatan yang ditandai dengan berkurangnya
berat badan dan sering mengalami sakit kepala. Remaja putus sekolah juga dapat
berurusan dengan pihak kepolisian karena perilaku yang dilakukannya sangat meresahkan
masyarakat seperti dengan berkumpul tengah malam sambil mengkonsumsi minuman
keras.
Upaya yang dilakukan
masyarakat dan tokoh masyarakat dalam menanggulangi perilaku menyimpang remaja
putus sekolah adalah;
a) Preventif
(mencegahan), memberikan pendidikan agama kepada para remaja, mengadakan
pembinaan melalui kegiatan kemasyarakatan, dan meningkatkan efektifitas fungsi
hubungan orang tua dan masyarakat;
b) Represif
(penghambat), memberikan nasehat yang baik kepada remaja, memberikan bimbingan
dan pengarahan. Jika upaya preventif tidak berhasil, sehingga akan dilakukan
penindakan secara hukum;
3) Kuratif dan
Rehabilitasi. dilakukan oleh tokoh masyarakat dengan cara memperluas pendidikan
terutama pendidikan agama.
Tanggapan :
Tanggapan saya dari
studi kasus diatas adalah pemuda dan sosialisasi merupakan suatu hal yang
berkaitan erat di dalam hidup ini, diana para pemuda harus ikut aktif dalam
berperan di kehidupan sehari-hari. Jikapun ada pemuda yang telah terjerumus pada
lingkungan yang tidak baik hendaknya dibina dan dilakukan rehabilitasi agar
tidak terjerumus kembali. Untuk mencegah hal tersebut terjadi juga perlu
diadakan pembinaan dan sosialisasi karena sosok pemuda di negri ini sangat
dibutuhkan untuk kemajuan hidup bersama membangun negri ini. Para pemuda
berperan sebagai penerus bangsa yang harus meneruskan cita-cita para leluhur. Pemuda
juga berperan dalam upaya pencegaha korupsi yang sedang banyak melanda di
Indonesia.Dengan para pemuda yang berfikir secara kritis dan berjiwa sosial
merupakan hal penting yang harus ditanamkan dalam diri masing-masing. Oleh
karena itu, sebagai penerus bangsa ini, hendaknya kita selalu berfikir dan
bertindak secara positif dalam menangani hal dan keadaan apapun
4.4
Kesimpulan
Tugas pemuda sekarang
dan di masa depan tidak bisa lepas kaitannya dengan tugas sejarah yang besar,
yang sedang dilakukan oleh seluruh bangsa kita, yakni pembangunan. Tugas masa
depan adalah tugas pembangunan. Kita bersama—sama harus membangun hari esok
yang kita cita—citakan, yang dicita—citakan oleh perjuangan yang sangat panjang
dan berat dari seluruh bangsa kita ini. Suatu hari esok yang lebih baik berarti
baik dari hari kemarin dan hari ini.
Pengisian masa depan seperti
yang dicita—citakan oleh Proklamasi Kemerdekaan itu dengan sendirinya menuntut
keterlibatan generasi muda. Sebab, apabila kita ingin membangun hari esok yang
lebih baik, maka didalamnya telah tercermin kepentingan dan sekaligus peranan generasi
muda. Pembangunan yang tengah dikerjakan saat ini secara keseluruhan tetap merupakan
tugas, tanggung jawab dan hak milik kita bersama.
Mengacu pada "Masa
depan adalah Milik Pemuda", maka penataan kehidupan pemuda mutlak
diperlukan dipersiapkan secaramatang dengan senantiasa berorientasi pada
Pencapaian Tujuan Nasional.
Dengan memperhatikan cara—cara
yang ditempuh pemuda dalam sosialisasi sebagaimana diuraikan di atas, maka
berbagai media sosialisasi yang dipergunakan pemuda harus ditata dan di persiapkan
sedemikian rupa sehingga mampu menyiapkan muda yang benar—benar siap meneruskan
perjuangan generasi sebelumnya, siap untuk menerima tonggak—tonggak
kepemimpinan generasi tua, dan mampu melanjutkan estafet pembangunan secara terus
menerus hingga tercapai tujuan Nasional.
Demi kelangsungan
sejarah dan budaya bangsa, serta terjaminnya proses kesinambungan nilai—nilai
dasar negara—bangsa, maka proses sosialisasi pemuda/generasi muda perlu
mendapatkan perhatian. Hal ini karena generasi muda merupakan generasi penerus
yang akan melanjutkan cita—cita perjuangan bangsa.
Untuk menjamin agar
proses sosialisasi itu berjalan dengan baik dan untuk menghindari terjadinya
"krisis" dalam proses sosialisasi tersebut, maka beberapa hal perlu
diperhatikan :
Pertama, adanya
"satu bahasa" tentang materi sosialisasi. Walaupun media —
sosialisasi tersebut berbeda—beda (seperti keluarga, sekolah, kelompok pergaulan,
media massa dan masyarakat), namun hendaknya isi "pesan" tersebut
tetap senada atau konsisten. Hal ini penting untuk melahirkan sikap yang teguh
dan menghindari adanya kebingungan di kalangan generasi muda karena "pesan
ganda" yang diterimanya.
Kedua, adanya
keteladanan dari generasi tua, khususnya dari para pemimpin masyarakat yang
terlibat langsung dalam proses sosialisasi. Adanya "satu kata dan
perbuatan"dari generasi tua, merupakan contoh yang secara langsung dapat
ditiru oleh generasi muda.
Ketiga, adanya campur
tangan Pemerintah yang lebih luas dalam proses sosialisasi, bukan hanya melalui
pendidikan formal saja, tetapi juga melalui jalur organisasi luar sekolah
seperti kepramukaan, Organisasi Pemuda dan lain—lain.
DAFTAR
PUSTAKA
H. Abu Ahmadi, Drs, ILMU SOSIAL DASAR, Rineka Cipta, 1990
H. Hartomo, Drs dan Arnicun Aziz, Dra, MKDU ISD, Bumi
Aksara, Desember, 1990
Munandar Soelaeman, ISD TEORI DAN KONSEP ILMU SOSIAL, edisi
revisi, PT. Eresco Bandung, 1989
Hartomo,H., dkk. 1993. MKDU Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Bumi
Aksara
Soedarno P., dkk. 1993. Ilmu
Sosial Dasar. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama
Ahmadi, Abu. 1991. Ilmu Sosial Dasar Mata Kuliah Dasar Umum. Jakarta : Rineka Cipta
Ahmadi, Abu. 2003. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : Rineka Cipta
Widjaja. 1985. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Akademi Presindo..
Nasution, Muhammad
Syukri Albani,dkk. 2015. Ilmu Sosial
Budaya Dasar. Jakarta: Raja Gravindo Persada
Soalaeman, M.
Munandar 2004. Ilmu Sosial Dasar Teori
dan Konsep Ilmu Sosial. Bandung: Refika Aditama
Raflek, Muhammad.
2012. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar.
Yogyakarta : Aswaja Pressindo
Tumanggor, Rusmin,
dkk. 2010. Ilmu Sosial Dasar dan Budaya. Jakarta:
Kencana
Setiadi, Elly, dkk.
2006. Ilmu Sosial & Budaya Dasar.
Jakarta: Kencana
Wahyu, Ramdani,dkk.
2007. Ilmu Sosial Dasar. Bandung:
Pustaka Setia
Jurnal Sosialisasi Pendidikan Sosiologi-FIS UNM
Jurnal Ketahanan Nasional, Vol. 23, No 3, Desember 2017

Komentar
Posting Komentar