ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN
9.1 ILMU PENGETAHUAN
A.
PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN
Menurut Soerjono Soekanto ilmu pengetahuan
adalah pengetahuan yang tersusun secara sistematis dengan menggunakan perkiraan
yang dapat di periksa secara kritis oleh orang lain maupun umum dan bersifat
objektif.
Tidak semua
pengetahuan merupakan ilmu,hanya pengetahuan yang tersusun secara sistematis yg
merupakan ilmu pengetahuan artinya pengetahuan tersebut terdiri dari unsur
unsur yang merupakan kebulatan dan menggambarkan garis besar ilmu pengetahuan
tersebut.
B. 4 SIKAP
ILMIAH
1.
Sikap ingin tahu : apabila menghadapi suatu masalah
yang baru dikenalnya,maka ia beruasaha mengetahuinya; senang mengajukan
pertanyaan tentang obyek dan peristiwa; kebiasaan menggunakan alat indera sebanyak
mungkin untuk menyelidiki suatu masalah; memperlihatkan gairah dan kesungguhan
dalam menyelesaikan eksprimen.
2.
Sikap kritis : Tidak langsung begitu saja menerima
kesimpulan tanpa ada bukti yang kuat, kebiasaan menggunakan bukti – bukti pada
waktu menarik kesimpulan; Tidak merasa paling benar yang harus diikuti oleh
orang lain; bersedia mengubah pendapatnya berdasarkan bukti-bukti yang kuat.
3.
Sikap obyektif : Melihat sesuatu sebagaimana adanya
obyek itu, menjauhkan bias pribadi dan tidak dikuasai oleh pikirannya sendiri.
Dengan kata lain mereka dapat mengatakan secara jujur dan menjauhkan
kepentingan dirinya sebagai subjek.
Sikap ingin menemukan : Selalu memberikan saran-saran untuk eksprimen baru; kebiasaan menggunakan eksprimen-eksprimen dengan cara yang baik dan konstruktif; selalu memberikan konsultasi yang baru dari pengamatan yang dilakukannya. Sikap menghargai karya orang lain, Tidak akan mengakui dan memandang karya orang lain sebagai karyanya, menerima kebenaran ilmiah walaupun ditemukan oleh orang atau bangsa lain.
Sikap ingin menemukan : Selalu memberikan saran-saran untuk eksprimen baru; kebiasaan menggunakan eksprimen-eksprimen dengan cara yang baik dan konstruktif; selalu memberikan konsultasi yang baru dari pengamatan yang dilakukannya. Sikap menghargai karya orang lain, Tidak akan mengakui dan memandang karya orang lain sebagai karyanya, menerima kebenaran ilmiah walaupun ditemukan oleh orang atau bangsa lain.
4.
Sikap tekun : Tidak bosan mengadakan penyelidikan,
bersedia mengulangi eksprimen yang hasilnya meragukan’ tidak akan berhenti
melakukan kegiatan –kegiatan apabila belum selesai; terhadap hal-hal yang ingin
diketahuinya ia berusaha bekerja dengan teliti.
9.2 TEKNOLOGI
A.
PENGERTIAN TEKNOLOGI
Menurut Walter Buckingham yang
dimaksud dengan teknologi adalah ilmu pengetahuan yang diterapkan ke dalam seni
industri serta oleh karenanya mencakup alat – alat yang memungkinkan
terlaksakannya efisiensi tenaga kerja menurut keragaman kemampuan.
Konsep ilmu
pengetahuan kemungkinan berlaku secara akademis dan dapatlah dikatakan bahwa
pengetahuan dan teknologi sebagai suatu seni yang mengandung pengetian
berhubungan dengan proses produksi; menyangkut cara bagaimana berbagai sumber,
tanah, modal, tenaga kerja dan ketrampilan dikombinasikan untuk merealisasi
tujuan produksi.
B. CIRI CIRI FENOMENA TEKNIK PADA
MASYARAKAT
Teknologi
memperlihatkan fenomenanya dalam masyarakat sebagai hal impersonal dan memiliki
otonomi mengubah setiap bidang kehidupan manusia menjadi lingkup teknis.
Jacques Ellul dalam tulisannya berjudul “the technological society” (1964)
tidak mengatakan teknologi tetapi teknik, meskipun artinya sama. Menurut Ellul
istilah teknik digunakan tidak hanya untuk mesin, teknologi atau prosedur untuk
memperoleh hasilnya, melainkan totalitas metode yang dicapai secara rasional
dan mempunyai efisiensi (untuk memberikan tingkat perkembangan) dalam setiap
bidang aktivitas manusia. Jadi teknologi menurut Ellul adalah berbagai usaha,
metode dan cara untuk memperoleh hasil yang distandarisasi dan diperhitungkan
sebelumnya.
Fenomena teknik pada
masyarakat ikini, menurut Sastrapratedja (1980) memiliki ciri-ciri sebagia
berikut :
1. Rasionalistas,
artinya tindakan spontan oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan
dengan perhitungan rasional
2. Artifisialitas,
artinya selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah
3. Otomatisme,
artinya dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksanakan secara otomatis.
Demikian juga dengan teknik mampu mengeliminasikan kegiatan non teknis menjadi
kegiatan teknis
4. Teknik
berkembang pada suatu kebudayaan
5. Monisme,
artinya semua teknik bersatu, saling berinteraksi dan saling bergantung
6. Universalisme,
artinya teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan ediologi, bahkan dapat
menguasai kebudayaan
7. otonomi
artinya teknik berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri.
C. CIRI-CIRI TEKNOLOGI BARAT
1. Bersifat Intensif pada semua kegiatan
manusia.
2. Cenderung bergantung pada sifat
ketergantungan.
3. Selalu berpikir bahwa barat adalah
pusat dari segala teknologi.
9.3 ILMU
PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN NILAI
Ilmu pengetahuan dan teknologi sering
dikaitkan dengan nilai atau moral. Hal ini besar perhatiannya tatkala dirasakan
dampaknya melalui kebijaksanaan pembangunan, yang pada hakikatnya adalah
penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Penerapan ilmu pengetahuan khususnya teknologi sering kurang memperhatikan masalah nilai, moral atau segi-segi manusiawinya. Keadaan demikian tidak luput dari falsafah pembangunannya itu sendiri, dalam menentukan pilihan antara orientasi produksi dengan motif ekonomi yang kuat, dengan orientasi nilai yang menyangkut segi-segi kemanusiaan yang terkadang harus dibayar lebih mahal.
Penerapan ilmu pengetahuan khususnya teknologi sering kurang memperhatikan masalah nilai, moral atau segi-segi manusiawinya. Keadaan demikian tidak luput dari falsafah pembangunannya itu sendiri, dalam menentukan pilihan antara orientasi produksi dengan motif ekonomi yang kuat, dengan orientasi nilai yang menyangkut segi-segi kemanusiaan yang terkadang harus dibayar lebih mahal.
Ilmu dapatlah dipandang sebagai produk, sebagai proses, dan sebagai etika
(Jujun S. Suriasumantri, 1984). Ilmu dipandang sebagai proses karena ilmu
merupakan hasil darikegiatan sosial, yang berusaha memahami alam, manusia dan
perilakunya baik secara individu atau kelompok. Apa yang dihasilkan oleh ilmu
pengetahuan seperti sekarang ini, merupakan hasil penalaran (rasio) secara objektif.
Ilmu sebagai produk artinya ilmu diperoleh dari hasil metode keilmuwan yang
diakui secara umum dan universal sifatnya. Oleh karena itu ilmu dapat diuji
kebenarannya, sehingga tidak mustahil suatu teori yang sudah mapan suatu saat
dapat ditumbangkan oleh teori lain. Ilmu sebagai ilmu, karena ilmu selain
universal, komunal, juga alat menyakinkan sekaligus dapat skeptis, tidak begitu
saja mudah menerima kebenaran.
IImu adalah bukan tujuan tetapi sebagai alat atau sarana dalam rangka
meningkatkan taraf hidup manusia. dengan memperhatikan dan mengutamakan kodrat
dan martabat manusia serta menjaga kelestarian lingkungan alam.
9.4 KEMISKINAN
A. PENGERTIAN KEMISKINAN
Menurut Prof. Dr. Emil Salim yang
dimaksud dengan kemiskinan adalah merupakan suatu keadaan yang dilukiskan
sebagai sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok,
seperti pangan, pakaian, tempat berteduh dan lain lain.
Adapun dalam istilah lain kemiskinan itu
merupakan ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan pokok sehingga mengalami
keresahan, kesengsaraan atau kemelaratan dalam setiap langkah hidupnya.
B. CIRI-CIRI MANUSIA YANG HIDUP DI BAWAH GARIS
KEMISKINAN
1. Tidak memiliki factor-faktor
produksi sendiri seperti tanah, modal, ketrampilan. Dll
2. Tidak memiliki kemungkinan untuk
memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri, seperti untuk memperoleh
tanah garapan ataua modal usaha
3. Tingkat pendidikan mereka rendah,
tidak sampai taman SD
4. Kebanyakan tinggal di desa sebagai
pekerja bebas
5. Banyak yang hidup di kota berusia
muda, dan tidak mempunyai ketrampilan.
C. FUNGSI KEMISKINAN
1.
Menyediakan tenaga kerja untuk
pekerjaan-pekerjaan kotor, tak terhormat, berat, berbahaya, namun dibayar
murah. Orang miskin dibutuhkan untuk membersihkan got-got yang mampet, membuang
sampah, menaiki gedung tinggi, bekerja di pertambangan yang tanahnya mudah runtuh,
jaga malam. Bayangkan apa yang terjadi bila orang miskin tidak ada. Sampah
bertumpuk, rumah dan pekarangan kotor, pembangunan terbengkalai, banyak
kegiatan ekonomi yang melibatkan pekerjaan kotor dan berbahaya yang memerlukan
kehadiran orang miskin.
2.
Memperpanjang nilai-guna barang atau jasa.
Baju bekas yang tak layak pakai dapat dijual (diinfakkan) kepada orang miskin,
termasuk buah-buahhan yang hampir busuk, sayuran yang tidak laku, Semuanya
menjadi bermanfaat (atau dimanfaatkan) untuk orang-orang miskin.
3.
Mensubsidi berbagai kegiatan ekonomi yang
menguntungkan orang-orang kaya. Pegawai-pegawai kecil, karena dibayar murah,
mengurangi biaya produksi dan akibatnya melipatgandakan keuntungan. Petani
tidak boleh menaikkan harga beras mereka untuk mensubsidi orang-orang kota.
4.
Menyediakan lapangan kerja. Karena ada
orang miskin, lahirlah pekerjaan tukang kredit, aktivis-aktivis LSM yang
menyalurkan dana dari badan-badan internasional, dan yang pasti berbagai
kegiatan yang dikelola oleh departemen sosial. Tidak ada komoditas yang paling
laku dijual oleh Negara Dunia Ketiga di pasar internasional selain kemiskinan.
5.
Memperteguh status sosial orang kaya.
Perhatikan jasa orang miskin pada perilaku orang-orang kaya baru. Sopir yang
menemaninya memberikan label bos kepadanya.Nyonya-nyonya dapat menunjukan
kekuasaannya dengan memerintah inem-inem mengurus rumah tangganya.
6.
Tumbal pembangunan. Supaya tidak menganggu
ketertiban dan keindahan kota, pedagang kakilima bila mengganggu lalu lintas
ditertibkan (ditangkap, dagangannya diambil, dan kerugiannnya tidak diganti).
9.5 STUDI KASUS
Selama beberapa tahun terakhir ini perkembangan teknologi informasi (TI)
semakin maju sejalan dengan kebutuhan manusia yang semakin meningkat.
Pengenalan terhadap perangkat teknologi pun seharusnya sudah dilakukan sejak dini
agar tidak “gaptek” atau gagap teknologi di era globalisasi yang semakin
berkembang apalagi di Indonesia.
“Anak-anak Indonesia seharusnya sudah dikenalkan pada teknologi itu
sejak pre-school. Sekitar usia empat tahun.” ujar Tika Bisono, dalam acara
Memanfaatkan Perangkat Tehnologi untuk Pengembangan Kreativitas Anak, di
Kidzania, Jakarta, Selasa (19/2).
Menurut Tika Bisono, penggunaan teknologi informasi yang semakin canggih
pada anak-anak, seharusnya mendapat pendampingan dari orang tua. “Orangtua
dapat mengarahkan anak-anak dalam penggunaan perangkat-perangkat teknologi
tersebut, sehingga penggunaannya tidak melewati batas-batasnya. Tapi
orangtuanya harus belajar dulu. Ya perlu semacam edukasi teknologi untuk
orangtua,” ujar Tika.
Menurut hasil penelitian lembaga riset pasar ritel dan konsumen global, NPD
Group yang berkedudukan di New York, Amerika Serikat, pada pertengahan 2007,
anak-anak usia empat sampai lima tahun yang berada di Amerika Serikat, paling
sering menggunakan perangkat teknologi komputer.
Walaupun
penelitian ini dilakukan di Amerika Serikat namun hasilnya bisa menjadi sebuah
rujukan bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, seiring dengan
meningkatnya fenomena anak-anak yang akrab dengan dunia TI.
Tika mengungkapkan saat ini anak-anak kelas menengah keatas di Indonesia
memiliki kemampuan yang tinggi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
(Iptek), karena memiliki akses yang memadai. “Ini seharusnya menjadi sorotan
pemerintah. Bagaimana anak-anak menengah ke bawah pun bisa memiliki akses untuk
tahu tentang kemajuan teknologi,” tambah Tika.
Tanggapan :
Dari studi kasus diatas
pembangunan ekonomi di Indonesia memang belum merata disetiap daerah. Hal ini
dapat dibuktikan dari masih minimnya sarana teknologi untuk siswa-siswa yang
masih tinggal di daerah terpencil.
Pengenalan teknologi
yang seharusnya sudah diperkenalkan sejak dini oleh orang tua dapat memperkecil
kemiskinan dari dampak perubahan teknologi yang berkembang secara tidak merata
sehingga masih terdapat daerah-daerah di Indonesia ini yang belum tersentuh
oleh teknologi secara langsung.
Perkembangan teknologi
secara merata dan menyeluruh akan membuat suatu daerah itu menjadi maju dan
memiliki sumber daya yang berkualitas.
Kaitan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Kemiskinan Ilmu pengetahuan dan
teknologi merupakan dua hal yang tak terpisahkan dalam peranannya untuk
memenuhi kebutuhan manusia. Ilmu pengetahuan digunakan untuk mengetahui “apa”
sedangkan teknologi mengetahui “bagaimana”.
Ilmu pengetahuan sebagai suatu bahan pengetahuan sedangkan teknologi
sebagai seni yang dibuat untuk memproduksi, berkaitan dalam suatu sistem yang
saling berinteraksi. Teknologi merupakan penerapan ilmu pengetahuan, sementara
teknologi mengandung ilmu – ilmu pengetahuan yang terkandung dalamnya.
Ilmu pengetahuan dan teknologi dalam penerapannya, keduanya menghasilkan
suatu kehidupan di dunia yang diantaranya membawa malapetaka yang belum pernah
dibayangkan. Oleh karena itu, ketika manusia sudah mampu membedakan ilmu
pengetahuan (kebenaran) dengan etika (kebaikan), maka kita tidak dapat bersikap
netral terhadap penyelidikan ilmiah. Sehingga dalam penerapan atau mengambil
keputusan terhadap sikap ilmiah dan teknologi, terlebih dahulu mendapat
pertimbangan moral dan ajaran agama.
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan
bagian-bagian yang dapat dibeda-bedakan, tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan
dari suatu sistem yang berinteraksi dengan sistem-sistem lain dalam kerangka
nasional seperti kemiskinan.
9.6 KESIMPULAN
Ilmu pengetahuan merupakan susunan pengetahuan secara teratur yang
diperoleh
secara sistematis, akumulatif, umum, dan empiris. Teknologi merupakan
perwujudan dari ilmu pengetahuan. Sedangkan kemiskinan adalah ketidakmampuan
seseorang memenuhi kebutuhan hidupnya dari segi ekonomi.
Ilmu
pengetahuan dan teknologi saling mendukung satu sama lain. Perkembangan ilmu
pengetahuan diwujudkan dalam wadah teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi
berperan penting dalam kemajuan suatu negara. Kemampuan memanfaatkan ilmu
pengetahuan dan teknologi dapat membawa seseorang keluar dari kemiskinan.
Upaya
mengatasi kemiskinan dimulai dari diri sendiri, membuang segala sifat malas dan
mau berusaha. Kemudian didukung faktor eksternal yaitu membuka diri terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
DAFTAR ISI
Ahmadi,
Abu. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Bachtiar,
Harsya W. Masalah Integrasi Nasional di Indonesia. Jakarta: Prisma
LP3ES
Munandar,
Soelaiman, Ilmu Sosial Dasar.Bandung
: Refika Aditama, 2001
Nasikun. Sistem
Pelapisan Sosial Indonesia. Jakarta: Rajawali, 1984
H.
Hartomo, Drs dan Arnicun Aziz, Dra, MKDU ISD, Bumi Aksara, Desember,
1990
Ahmadi, Abu. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : Rineka Cipta 2003
Nasution, Muhammad Syukri
Albani,dkk. Ilmu Sosial Budaya Dasar.
Jakarta: Raja Gravindo Persada, 2015
Setiadi, Elly, dkk. Ilmu Sosial & Budaya Dasar. Jakarta:
Kencana, 2006.

Komentar
Posting Komentar